Selasa, 09 Desember 2014

MAKALAH PSIKOLOGI ISLAM TENTANG MOTIVASI BERAGAMA

MOTIVASI BERAGAMA


I.     Pendahuluan
Motivasi adalah berawal dari kata motif, yang memiliki arti dorongan. Motivasi merupakan sebab-sebab yang menjadi dorongan bagi tindakan seseorang.  Dorongan itu dapat muncul dari tujuan dan  kebutuhan demi berlangsungnya kehidupan manusia. Manusia butuh akan motivasi sebagai penyemangat, gairah, atau dorongan untuk mengambil keputusan.
Agama ialah sistem norma yang mengatur manusia dengan yang lainnya, sebuah sistem nilai- yang memuat norma-noma tertentu. Secara umum norma-norma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku. Pengaruh agama dalam kehidupan individu memberi kemantaapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa puas, dalam hali ini agama dalam kehidupan individu selain menjadi motivasi juga merupakan harapan.
Sedangkan motivasi beragama adalah dorongan manusia untuk memeluk agama yang diyakininya. Berikut dalam makalah ini akan dibahas lebih jelas mengenai motivasi beragama bagi seorang muslim.
II.  Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, dalam makalah kami mengambil beberapa permasalahan, yaitu:
1.    Bagaimana motivasi menurut perspektif psikologi Islam ?
2.    Bagaimana beragama menurut perspektif psikologi Islam ?
3.    Bagaimana motivasi beragama bagi seorang muslim ?




III. Pembahasan
1.    Motivasi Menurut Perspektif Psikologi Islam
Sebenarnya kata Motivasi banyak disebutkan di dalam bahasa Al-Qur’an, yang salah satunya adalah fitrah yang artinya adalah potensi atau pembawaan manusia yang dibawa sejak ia lahir. Manusia selain sebagai makhluk rasionaistikl juga sebagai makhluk metafisik, yaitu makhluk yang digerakkan oleh sesuatu di luar nalar yang biasanya disebut naluri atau insting. Setiap perbutan yang dilakukan manusia baik yang disadari atau (rasional) maupun yang tidak disadari (mekanikal atau naluri) pada dasarnya merupakan sebuah wujud untuk menjaga sebua keseimbangan hidup. Jika kesimbangan tubuh ini terganggu, maka akan timbul suatu dorongan untuk melakukan aktivitas guna mengembalikan keseimbangan tubuh.
Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, sangat memperhatikan konsep kesimbangan, yang dijelaskan pada QS. al-Hijr 19 yang berbunyi:
وَاْلأَرْضض مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْزُونٍ {19}
Artinya:
Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjdikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukurannya”. (QS. Al-Hijr:19)
          الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ {7}
Artinya:
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” (QS. Al-Infithar:7)[1]
Jadi, dapat diketahui bahwa, motivasi (motivation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku. Motivasi sudah diartikan suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-fakor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyeluruh tingkah laku menuju satu sasaran. Motivasi juga dapat diartikan sebagai semangat. Pengertian inilah yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.
Berikut ini pengertian motivasi :
1.      Menurut Abraham Maslow dan Douglas McGregor, motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu.
2.      Menurut Mitchell, motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, ketekunan seorang individu untuk mencapai suatu tujuan.
3.      Motivasi adalah proses pengembangan dan pengarahan perilaku individu atau kelompok, agar individu atau kelompok itu menghasilkan keluaran yang diharapkan, sesuai dengan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai. (Ensiklopedi Manajemen, Ekonomi dan Bisnis, 1993).[2]
4.      Menurut Wirawan Sarwono, motivasi adalah istilah yang lebih umum, yang menunjuk pada seluruh proses gerakan, termasuk di dalamnya situasi yang mendorong timbulnya tindakan atau tingkah laku individu.
Seberapapun perbedaan para ahli dalam mendefinisikan motivasi, namun dapat dipahami bahwa motivasi merupakan akumulasi daya dan kekuatan yang ada dalam diri seseorang untuk mendorong, merangsang, menggerakkan, membangkitkan dan memberi harapan pada tigkah laku. Motivasi menjadi pengarah dan pembimbing tujuan hidup seseorang, sehingga ia mampu mengatasi inferioritas yang benar-benar dirasakan dan mencapai superioritas yang lebih baik. Makin tinggi motivasi hidup seseorang, maka makin tinggi pula intensitas tingkah lakunya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dalam psikologi Islam, pembahasan motivasi hidup tidak terlepas dari tahapan kehidupan manusia. Secara garis besar, kehidupan manusia terbagi atas tiga tahap penting :
1)      Tahapan pra kehidupan dunia, yang disebut dengan alam perjanjian atau alam alastu. Pada aam ini terdapat rencana atau design Tuhan yang memotivasi kehidupan manusia di dunia. Isi motivasi yang dimaksud adalah amanah yang berkenaan dengan tugas dan peran kehidupan manusia di dunia.
2)      Tahapan kehidupan dunia, untuk aktualisasi atau realisasi diri terhadap amanah yang telah diberikan pada alam pra kehidupan dunia. Pada alam ini realisasi atau aktualisasi diri manusia termotivasi oleh pemenuhan amanah. Kualitas hidup seseorang sangat tergantung pada kualitas pemenuhan amanah.
3)      Tahapan alam pasca kehidupan dunia, yang disebut dengan hari penghabisan atau yaumul akhirah. Pada kehidupan ini manusia diminta oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya, apakah aktivitasnya sesuai dengan amanah atau tidak. 
Menurut pandangan Islam telah dinyatakan secara jelas bahwa motivasi hidup manusia hanyalah realisasi atau aktualisasi amanah Allah SWT semata. Menurut Fazlur Rahman, amanah merupakan inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan, tanpa amanah manusia tidak memiliki keunikan dengan makhluk-makhluk lain. Firman Allah:
إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72}
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikillah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.(QS. Al-Ahzab:72)[3]
Dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa motivasi aktivitas hidup seseorang. Namun motivasi yang dapat dibenarkan adalah :
1.      Tidak ada motivasi atau tendensi apapun dalam ibadah, hidup dan mati ini kecuali semata-mata karena Allah. Firman Allah SWT:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(QS Al-An’am :162)
2.      Semata-mata ikhlas karena Allah SWT, sebab hal itu merupakan bentuk beragama yang benar. Firman Allah SWT:
وَمَآ أُمِرُوْ~ا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُالْقَيِّمَةِ {5}
Artinya: padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah: 5)
3.      Untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan terhindar dari siksaan api neraka. Firman Allah:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Artinya: “Dan diantara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".[4]


2.    Beragama Menurut Perspektif Psikologi Islam
Beragama juga berasal dari bahasa Inggris yaitu religiosity dari akar kata religy yang berarti agama. Religiosity merupakan bentuk kata dari kata religious yang berarti beragama, beriman. Beragama adalah adanya kesadaran diri individu dalam menjalankan suatu ajaran dari suatu agama yang dianut. Manusia diciptakan dengan membawa fitrah yang penciptaannya lebih sempurna dibanding dengan makhluk yang lain. Penciptaannya ini dilengkapi dengan akal dan nafs, dengan memiliki akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk.[5] SebagaimanaRasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada Adam  telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bin dari Az-zuhriyyi dari Abu Salamah bin Abdur rahman dari Abu Hurairah berkata: Nabi SAW bersabda: setiap anak dilahiran dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”
Dalam referensi yang berbeda, bahwa manusia memiliki fitrah atau potensi yang terdiri dari Nafs, Qalb, Ruh,dan Aql. Berkenaan dengan agama yang dipeluk setiap manusia, maka hal ini dikaitkan pula dengan Ruh. Ruh merupakan dimensi jiwa manusia yan bernuansa ilahiyyah. Implikasinya dalam kehidupan manusia adalah aktualisasi potensi luhur batin manusia berupa keinginan mewujudkan nilai-nilai ilahiyyah yang tergambar dalam Asmaul Husna (nama-nama Allah) dan berperilaku agama (makhluk agamis). Ini sebagai konsekuensi logis dimensi Ruh yang berasal dari tuhan, maka ia memiliki sifat-sifat yang dibawa dari asal tersebut. Jadi, kebutuhan manusia untuk memeluk agama adalah suatu hal yang logis. Dalam agama, keyakinan terhadap Allah dapat dipenuhi dan dipuaskan. Dari sinilah dapat diketahui, bahwa manusia memang butuh Agama. Yang mana konsekuensi ini menolak pandangan psikologi tentang paham Behafiorism dan Psikoanalismyang menganggap bahwa beragama adalah sebagai orang yang mengidap penyakit jiwa. Karena jiwa manusia hampa dimensi Ruh yang merupakan dimensi Ilahiyyah manusia yang bermuara pada kebutuhan terhadap Tuhan dan Agama. Jadi, wajar saja jika tidak mengakui agama sebagai kebutuhan jiwa manusia, namun malah sebaliknya menganggap sebagai penyakit jiwa.
Menurut perspektif Psikologi Islam, ruh merupakan dimensi spiritual yang menyebabkan iwa manusia dapat dan memerlukan hubungan dengan hal-hal yang bersifat spiritual. Jiwa manusia memerlukan hubungan dengan Tuhan. Maka dari itu, jiwa juga memiliki daya-daya atau kekuatan-kekuatan yang spiritual yang tidak dimiliki makhluk lain.
Dari dimensi inilah menyebabkan manusia memiliki sifat ilahiyyah (sifat ketuhanan) yang mendorong manusia untuk merealisasikan sifat-sifat Tuhannya dalam kehidupannya di dunia.[6]

3.    Motivasi Beragama Bagi Seorang Muslim 
Agama berperan sebagai motivasi dalam mendorong individu untuk melakukan suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai kesucian, serta ketaatan. Keterkaitan ini akan memberi pengaruh diri seseorang untuk berbuat sesuatu. sedangkan agama sebagi nilai etik karena dalam melakukan sesuatu tindakan seseorang akan terikat kepada ketentuan antara mana yang boleh dan mana yang tidak boleh menurut ajaran yang dianutnya. Sebaliknya agama juga sebagi pemberi harapan bagi pelakunya. Seseorang yang melaksanakan perintah agama umumnya karena adanya suatu harapan terhadap pengampunan atau kasih sayang dari suatu harapan terhadap pengampunan atau kasih sayang dari sesuatu yang ghaib.
Motivasi mendorong seseorang untuk berkreasi, berbuat kebajikan maupun berkorban. Sedangkan nilai etik mendorong seseorang untuk berlaku jujur, menepati janji menjaga amanat dan sebagainya. Sedangkan harapan mendorong seseorang untuk bersikap ikhlas, menrima cobaan yang berat ataupun berdo’a. Sikap seperti itu akan lebih terasa secara mendalam jika bersumber dari keyakinan terhadap agama.
Dalam Al-Qur’an ditemukan beberapa statement baik secara eksplisit maupun implisit menunjukkan beberapa bentukan dorongan yang memengaruhi manusia. Dorongan-dorongan yang dimaksud dapat berbentuk instingtif dan dorongan naluriah, maupun dorongan terhadap hal-hal yang memberikan kenikmatan.  Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali-Imron ayat 14 dan QS. Al-Qiyammah ayat 20. Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecintaan yang kuat terhadap dunia dan syahwat (sesuatu yang bersifat kenikmatan pada badan) yang terwujud dalam kesukaan terhadap perempuan, anak, dan harta kekayaan. Dalam surat Al-Qiyammah ayat 20 dijelaskan larangan untuk menafikan kehidupan dunia, karena sebenarnya mnausia diberikan keinginan dalam dirinya untuk mencintai dunia itu, hanya saja kesenangan hidup itu tidak diperbolehkan semata-mata hanya untuk kesenagngan saja, yang sebenarnya lebih bersifat biologis dari pada bersifat psikis. Padahal motivasi manusia harus terarah pada suatu qiblah, yaitu arah masa depan yang disebut Al-akhirah, sebuah kondisi yang situasi yang sebenarnya lebih bersiaft psikis.
Dalam surat Ar-Rum ayat 30 juga dijelaskan mengenai fitrah manusia atau sebuah potensi dasar. Potensi dasar yang memiliki makna sifat bawaan, yang mengambil arti bahwa sejak diciptakan manusia memiliki sifat pembawaan yang menjadi pendorong untuk melakukan berbagai bentuk perbuatan, tanpa disertai dengan peran akal, sehingga terkadang manusia tanpa disadari bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pada pemenuhan fitrahnya. Seperti pada kasus yang terjadi pada “ Agama” animism dan dinamisme, para pengikutnya bersifat dan bertingkah laku aneh dan irrasional (menyediakan sesajen) ketika memenuhi kebutuhan fitrahnya untuk beragama.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan potensi dasar atau fitrah beragama. Semua manusia pasti membutuhkan agama, sekalipun orang atheis secara actual tidak meyakini adanya Tuhan. Tetapi sebenarnya, secara filosofi, mereka tetap mencari pegangan hidup yang diwujudkan dalam aturan-aturan kesepakatan bersama atau semacam undang-undang yang dibuat mereka. Aturan yang dibuat mereka terkadang lebih fanatic daripada aturan dari seorang penganut agama yang mengakui aturan yang dibuat Tuhan. Dalam menjalankan aturan itu seakan-akan atheis mengakui aturan itu sendiri sebagai Tuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat memisahkan diri denagn Tuhan sekalipun manusia tidak menyadari hubungan itu. Inilah yang dimaksud motivasi beragama. [7]
Pendapat lain menyatakan bahwa salah satu ciri utama fitrah adalah manusia menerima Allah sebagai Tuhan. Dari asalnya manusia itu mempunyai kecenderungan beragama, sebab beragama itu sebagian dari fitrahnya. Sebab-sebab yang menjadikan seseorang itu tidak percaya terhadap Tuhan bukanlah sifat dari asalnya, tetapi ada kaitannya dengan alam sekitar. Manusia butuh agama itu karena untuk memberdayakan diri ketika sedang dalam menghadapi kesulitan atau masalah sebagai wujud untuk menghindari bahaya yang akan menimpanya. [8]
4.    Analisa
Sejak awal manusia diciptakan oleh Allah, sebenarnya manusia memilki fitrah atau potensi untuk beragama. Beragama dalam hal ini adalah beragama Islam. Menurut orang orientalis, kedatangan Isla adalah sebagai solusi, karena menurut mereka rujukan yang utama adalah adalah psikologi umum yang dikembangkan oleh kaumnya sendiri. Kemudian baru merujuk pada psikologi dalam perspektif Islam.
Manusia selain disebut sebagai makhluk rasionalistik juga disebut sebagai makhluk mekanistik, yang mana keduanya harus dalam keadaan seimbang. Jika keduanya tidak seimbang maka manusia butuh adanya suatu dorongan atau motivasi, baik motivasi yang berasal dari diri sendiri juga yang berasal dari orang lain. Dalam kajian makalah ini dibahas tentang motivasi beragama bagi seorang muslim. Motivasi adalah dorongan yang muncul dari diri seseorang untuk mencapai sasaran yang hendak dicapai. Manusia memiliki dorongan untuk memeluk agama yang diyakininya, hal ini berkenaan dengan fitrah atau potensi dasar yang disebut dengan Ruh sehingga hal ini disebut sebagai dimensi Ruh. Dimensi Ruh menyebabakan manusia memiliki sifat ilahiyyah atau sifat ketuhanan dan mendorong manusia untuk mewujudkan sifat tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari.  
Dari sinilah, sebenarnya butuh dengan agama sebagai pengatur kehidupan yang mereka jalani. Manusia butuh  agama, karena agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Manusia sejak awal lahirnya telah membawa fitrah (potensi) yang berbeda. Salah satu potensi yang dibawa manusia itu adalah potensi agam. Segala tingkah laku yang diperbuatnya baik dan buruknya tingkah laku itu tergantung pada mahusia yang menjalaninya, karena pada dasarnya segala sesuatu yang diperbuat manusia akan kembali pada agama.
IV.             Penutup
A.    Kesimpulan
1.      Motivasi dalam perspektif Islam adalah tahapan kehidupan manusia yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama, tahapan pra kehidupan dunia, yang disebut dengan alam perjanjian atau alam alastu yang dijelaskan dalam QS. al-A’raf ayat 172. Pada alam ini terdapat rencana dan design Tuhan yang memotivasi kehidupan manusia di dunia. Isi motivasi yang dimaksud adalah amanah yang berkenaan dengan tugas dan peran kehidupan manusia di dunia. Tahapan kedua, tahapan kehidupan dunia, untuk aktualisasi atau realisasi diri terhadap amanah yang telah diberikan pada alam pra kehidupan dunia. Kehidupan manusia pada tahap ini sangat termotivasi oleh pemenuhan amanah. Tahapan ketiga, tahap alam pasca kehidupan dunia yang disebut hari penghabisan (yaumul akhirah). Pada kehidupan ini, manusia diminta oleh Allah untuk mepertanggungjawabkan semua aktivitasnya, apakah aktivitas yang dilakukan sesuai dengan amanah atau tidak, jika sesuai dia akan masuk surga dan jika tidak maka akan masuk neraka.
2.      Beragama menurut psikologi Islam adalah setiap manusia yang lahir ke dunia memiliki potensi atau fitrah untuk memeluk agama yang diyakininya. Hal ini dikarenakan manusia memiliki fitrah yang disebut dengan Ruh. Ruhlah yang mendorong manusia untuk mencari agama yang dianggap benar.
3.      Motivasi beragama bagi seorang muslim merupakan dorongan bagi manusia untuk menjalankan apa saja yang menjadi konsekuensi dari masing-masing agama yang dipeluknya. 

B.     Saran
Alhamdulillah, makalah yang kami susun dengan judul “Motivasi Beragama” pada mata kuliah Psikologi Islam ini dapat selesai tepat pada waktunya. Kemi sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun makalah ini, namun masih ada kekurangan, karena tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna kecuali Allah. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Atas kritik dan sarannya kami ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat kepada kita semua.



DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Saleh, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Prenada Media, Jakarta;2004.
Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta;2002.
Baharuddin, Aktualisasi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta;2005.
Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, Puataka Pelajar, Yogyakarta; 2004.
Djamaludin Ancok, Psikologi Islami,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta;2011.
Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung;2008.
Sumanto, Psikologi Umum, CAPS (Center of Academic Publishing Service), Yogyakarta;2014.




[1] Abdul Rahman Shaleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2004, hal. 179.
[2]Sumanto, Psikologi Umum, CAPS (Center of Academic Publishing Service), Yogyakarta;2014, hal 167-168.
[3] Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta;2002, hal 246-250.
[4]Ibid, hal 255.
[5]Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung;2008, hal 7.
[6] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hal. 145-146.
[7]Baharuddin, Aktualisasi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta;2005, hal 21-22.
[8] Djamaludin Ancok, Psikologi Islami,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta;2011, hal 157.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar