HAJI, UMRAH DAN
PENGAJARANNYA
MAKALAH
Disusun Guna MemenuhiTugas
Mata kuliah : Materi dan Pembelajaran Fiqih Mts dan
MA
Dosen Pembimbing: Ahmad Fatah, M. SI
DisusunOleh : kelompok 6
Azimmatul Khoiroh (1310110054)
Hidayatul Mustafit (1310110074)
Nurul Ilmi E. N (1310110045)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN
TARBIYAH/PAI
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Agama Islam bertugas mendidik dhahir
manusi, mensucikan jiwa manusia dan membebaskan diri manusia dari hawa nafsu.
Dengan ibadah yang tulus ikhlas dan akidah yang murni sesua kehendak Allah.
Insyaalah kirta akan menjadi orang yan beruntung. Ibadah dam agam islam banyak
macamnya, salah satunya adalah haji.
Haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan atas seiap muslim
yang merdeka, bligh, dan mempunyai kemampuan, dalam seumur hidup sekali. Namun
dari kalangan umum atau masyarakat mulai dari golongan petani, pedagang,
pegawai dan lain sebagainya dan masih belum banyak mengerti apa yang harus
dilakukan ketika dalam melaksanakan haji dan umrah.
Dalam pembelajaran haji dan umrah
guru dituntut mampu mengarahkan siswa unruk mengalami proses belajar dalam aspek
kogninif, psikomotor dan efektif. Dalam penyampaian materi guru harus memilih
strategi dan metode yang tepat berdasarkan berbagai pertimangan karena strategi dan metode merupakan komponen
pembelajaran yang memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan
pembelajaran. Dngan demikian maka pada kesempatan kali ini kami akan menguraikan
makalah tentang haji dan umrah dan pengajarannya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaiamana
hakikat Haji ?
2.
Bagaimana
hakekat Umrah ?
3.
Bagaimana
pembelajaran materi haji dan umrag di Mts dan MA ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakekat Haji
1.
Pengertian Haji
Haji menurut bahasa adalah “menuju”, sedangkan menurut syara’ haji
adalah menuju tanah mekah karena ibadah. Jadi haji adalah berkunjung ke
baitullah yang terletak di makkah untuk melakukan ibadah.[1]
Haji termasuk ibadah yang telah ada pada syari’at agama-agama
terdahulu sebelum islam. Nabi Ibrahim dan nabi Isa as, membangun ka’bah sebagai
rumah ibadah untuk menyembah Allah semata dan beliau menyeru manusia untuk
berhaji ke Bait Allah.
Ibadah haji adalah salah satu rukunislam yang kelima. Haji mulai
diwajibkan bagi umat islam pada tahun ke-6 hijriyah. Sebelum itu Rasulallah SAW
pernah beribadah haji sebagai ibadah sunah. Disamping ibadah haji ada ibadah
umrah. Keduanya wajib dikerjakan bagi umat islam sekali seumur hidup bagi yang
mampu. Ibadah haji dan umrah jika dilakukan lebih dari sekali hukumnya sunnah.
Ibadah
haji di wajibkan satu kali dalam seumur hidup. Firman Allah SWT :
Y¬!urn?tãĨ$¨Z9$#kÏmÏMøt7ø9$#Ç`tBtí$sÜtGó$#Ïmøs9Î)WxÎ6yÇÒÐÈ
Artinya :”mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah.” ( QS. Ali Imran: 97)
ibadah haji itu wajib segera dikerjakan. Artinya apabila apabila
orang tersebut telah mememuhi syarat-syaratnya, dan jika masih di lalaikan juga
maka ia akan berdosa.[2]
Haji asal hukumnya adalah wajib wajib ‘ain bagi yang mampu,
melaksanakan haji menjadi wajib yaitu karena memenuhi rukun islam dan apabila
kita nazar maka wajib melaksanakannya.
2.
Syarat dan Rukun Haji
a.
Syarat
wajib haji :
1.
Islam
2.
Mukalaf
( orang yang telah dewasa dan wajib menjalankan hukum agama, yaitu melaksanakan
perintah Allah dan menjauhi larangan Allah)
3.
Merdeka
4.
Mempunyai
kesanggupan melakukannya
5.
Ada
mahram (muhrim) bagi wanita
6.
Berakal
sehat
b.
Syarat
sah haji :
1.
Islam
2.
Berakal
3.
Baligh
4.
Kuasa
c.
Rukun
Haji :
1.
Niat
(ihram)
2.
Thawaf
3.
Wukuf
di arafah
4.
Sya’yu
antara shafa dan marwa[3]
Niat ihram dilakukan dalam bulan haji(Syawal, Dzulqo’dah dan 10
Dzulhijjah), tidak boleh dilakuan diluar bulan-bulan itu
Abu hanifah sendiri hanya menetapkan dua rukun saja yaitu wukuf di
arafah dan mpa kali thawaf, dari thawaf ziarah. Tiga thawaf lagi untuk
mencukupkan tujuh kali thawaf, wajib hukumnya. Ihram masuk kedalam syarat sah
dan sa’yu wajib bukan, bukan rukun.
3.
Macam-macam haji
a.
Haji
Ifrad
Haji Ifrad adalah mengerjakan haji terlebih dahulu, setelah selesai
barulah mengerjakan umrah. Jadi dalam hal ini mengerjakan dua kali ihram, yaitu
miqat untuk haji, dan miqat lagi dari miqat untuk umrah danmelaksanakan seluruh
pekerjaan umrahsemua ini dikerjakan setelah menyelesaikan abadah haji dan masih
dalam bulan haji.
b.
Haji
Tamattu’
Haji Tamattu’ adalah melakukan umrah terlebih dahulupada
bulan-bulan hajidan setelah selesai barulah menerjakan haji. Jadi, orang yang
melakukan haji tamattu’ harus melakukan ihram sampai selesai unrtuk keperluan
umrah, kemudian ihram untuk ibadah haji. Orang yang melksanakan haji dengan
cara Tamattu’ wajib membayar dam (denda), yaitu menyembembelih seekor kambing.
Jika tidak mampu dapat diganti dengan puasa 10 hari, yaitu tiga hari ketika
masih ditanah haram dan tujuh hari setlah tiba di tanah air.
c.
Haji
Qiran
Haji Qiran adalah mengerjakan ibadah haji dan umrah secara
bersamaan. Orang yang melakukan haji Qiran melakukan ihram dan miqat dengan
niat untuk haji sekaligus umrah. Sama halnya dengan haji tamattu’.
Sama halnya dengan haji tamattu’, maka haji Qiranpun dikenakan dam
menyembelih seekor kmabing, jika tidak mampu dapat diganti dengan puasa tiga
hari ditanah suci dan tujuh hari setelah di tanah air.
4.
Sunah Haji dan Larangan-larangan Haji beserta Damnya
a.
Sunah
Haji
Adapun sunah haji adalah sebagai berikut :
a.
Mandi
ketika hendak ihram
b.
Memakai
wangi-wangian sebelum memakai pakaian ihram
c.
Sholat
sunnah dua rakaat
d.
Membaca
talbiyah sebelum berihram sampai tahallul
e.
Melakukan
thawaf ketika masuk ke masjidil haram
f.
Membaca
dzikir dan do’a keika melakukan thawaf
g.
Sholat dua rakaat sesudah thawaf
h.
Masuk
ke ka’bah
b.
Larangan-
larangan Haji Beseta Damnya
1.
Memakai
pakaian yang berjahit (bagi laki-laki), baik jahitan biasa atau bersulam, atau
diikatkan kedua ujungnya. Yang dimaksud adalah tidak boleh memakai pakain yang
melingkungi badan (seperti kain sarung). Yang di perbolehkan ialah kain
panjang, kain basah atau handuk, boleh juga memakai kain tersebut karena
keadaan yang mendesak tetapi wajib membayar dam.
2.
Menutup
kepala (bagi laki-laki, kecuali karna suatu keperluan maka di perbolehkan
tetapi wajib membayar dam.
3.
Menutup
muka atau kedua telapak tangan ( bagi perempuan)
4.
Memakai
wangi-wangian, baik pada badan maupun pakaian.
5.
Tidak
boleh mencukur rambut dan memotong kuku
6.
Mengadakan
nikah ( menikah, menikahkan, atau menjadi wakil dalam akad pernikahan)
7.
Bersetubuh,
berseubuh bukn hanya dilarang, tetapi memfasidkan (membatalkan)
8.
Berburu
dan membunuh binatang.[4]
Sehubungan
dengan itu, larangan-larangan tersebut diatas perlu diperhatikan. Barang siapa
sengaja melanggarnya maka kepadanya di kenakan dam.
Oleh karena itu
apabila seseorang dalam keadaan ihram sengaja melanggar larangan, seperti
memakai pakain berjahit mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian,
menutup muka dan memakai sarung tangan khusus bagi wanita maka ia wajib
membayar dam, yaitu dengan menyembelih seekor domba/kambing. Apabila yang
bersangkutan tidak mampu, boleh mengganti dengan bershodaqoh kepada fakir
miskin sebanyak 3 sha’ (1 sha’ = 3,1 liter) makanan pokok, atau berpuasa selama
3 hari yang dikerjakan ketika menunaikan ibadah haji.
Apabila
melanggar larangan membunuh binatang buruan dan tidak sanggup membayar dam maka
ia wajib membayar fidyah dengan makaan pokok seharga bnatang tersebut. Bila
tidak mampu juga diganti dengan puasa dengan perbandingan 1 hari puasa sama
dengan 1 mud (0,75 kg) makana pokok.
Apabila suami
istri melanggar laranan dengan bersetubuh dalam keadaan berihram sebelum
tahallul maka batal hajinya. Namun demikian ia wajib membayar kafarat, yaitu
menyembelihseekor unta atau sapi serta wajib mengulang hajinya. Apabila
bersetbuh setelah tahallulhajinya tetap sah tetapi baginya tetap membayar dam
dengan menyembelih seekor unta atau sapi.
B.
Hakekat Umrah
Umrah diambil dari kata i’timar
adalah berziarah. Hukum umrah adaah fardu ‘ain bagi laki-laki dan perempuan,
sekali seumur hidup, seperti haji.
Firman Allah SWT :
(#qJÏ?r&ur¢kptø:$#not÷Kãèø9$#ur¬!4ÇÊÒÏÈ
Artinya :”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah Karena Allah”.
(QS. Al Baqoroh : 196).
Pada hakekatnya umraha ada dua macam, yaitu :
a.
Umrah yang dilaksanakan
sewaktu-waktu atau kapan saja di luar batas bulan haji (bulan-bulan haji)
b.
Umrah yang dilaksanakandalam
rangkain ibadahhaji dan dilaksanakan pada batas waktu haji
Mengenai
hukum umrah terdapat dua pendapat, menurut imam Ahmad dan imam Syafi’i hukumnya
wajib. Sedangkan menurut madzab Maliki dan madzab Hanafi hukumnya sunah
mu’akad.
Pada
dasarnya syara’ rukun dan wajibnya umrah sama dengan ibadah haji, sedangkan
yang wajib i laksanakan ketika umrah yaitu Ihram dari miqat.
Miqat
ihram sama dengan miqat haji. Apabila seorang yang melakukan umrah berada
diluar tanah haram, tidak boleh baginya melewati miqat tanpa berihram umrah.
Dan apabila ia sudah berada dalam tanah haram, miqat ihramnya adalah tanah
halal. Misalnya dari Tan’im sebagaimana dilakukan oleh aisyah atau dari
Ji’ranah yang dilakukan oleh Rasululah SAW.[5]
C.
Pembelajaran
Materi Haji dan Umrah
Dalam pembelajaran dibutuhkan adanya pendekatan, model serta
metode. Dibawah ini akan dibahas satu-persatu dalam pembelajaran fiqih haji dan
umrah.
1.
pendekatan
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan pendidik atau guru
untuk kegiatan pembelajaran pendidikan agama islam dalam hal ini adalah
pembelajaran fiqih bab haji dan umrah. Pedekatan yang dapat dilakukan pendidik
adalah sebagai berikut :
a.
Pendekatan pengalaman
Pendekatan
ini merupakan pemberian pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka
penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan
untuk mendapatkan pengalaman baik secara individual ataupun kelompok.
Dalam
pembelajaran ibadah haji misalnya, guru atau pendidik akan menemui kesulitan
yang besar apabila mengabaikan pendekatan ini. Siswa harus mengalami sendiri
ibadah itu dengan bimbingan gurunya. Belajar dari pengalaman jauh lebih baik
dari pada hanya sekedar bicara. Pengalaman yang di maksud disini tentunya
pengalaman yang bersifat mendidik. Memberikan pengalaman yang edukatif kepada siswa
diarahkan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
b.
Pendekatan fungsional
Pendekatan
ini merupakan upaya memberikan materi pembelajaran dengan menekankan kepada
kemanfaatan bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
dan bimbingan untuk melakukan ibadah haji misalnya, diharapkan berguna bagi
kehidupan seseorang, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan
sosial. Melalui pendekatan fungsional ini, berarti siswa dapat memanfaatkan
ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan
ini adalah metode latihan. Demonstrasi dan pemberian tugas.
c.
Pendekatan sosial
Dalam
kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guruyang meggunakan pendekatan
lain, yakni pendekatan sosial. Pendekatan sosial memang suatu waktu diperlukan
dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial peserta didik.
Dengan
pendekatan sosial dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri
setiap peserta didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam
diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial dikelas
dan lingkungan sekolah.
2.
Model
Dalam
pembelajaran fiqih haji dan umrah adalah dengan menggunakan model pembelajaran
active learning, yaitu pembelajaran menghendaki kektifan siswa dalam
pembelajaran.
3.
Metode
a.
Metode Ceramah
Metode
ini adalah metode tertua yang di pratekkan sejak zaman dahulu. Pada bab haji
dan mrah, metode ini paling cocok dalam menyampaikan hal-hal yang bersifat
uraian. Sebagai contoh, pengertian haji dan umrah, syarat dan wajib haji dan
umrah. larangan dalam haji dan umrah.
b.
Metode Drill
Drill
artinya latihan yang dilakukan secara berulang-ulang. Metode ini dapat dipakai
untuk melatih siswa untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah diruangan yang sudah
disediakan dan media yang secukupnya. Tetapi hendaknya metode ini digunakan
setelah guru menjelaskan materi inti dengan menggunakan metode ceramah.
c.
Metode simulasi
Simulasi
dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumi tidak semua proses
pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek sebenarnya. Sebagai
metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman beajar
dngan menggunakan simulasi tiruan untuk mrmahami tentang konsep, prinsip atau
keterampilan tertentu. Contohnya adalah simulasi praktik haji dan umrah secara
bersamaan yang dilakukan oleh siswa dan dilihat langsung oleh guru.
d.
Metode tanya jawab
Metode
tanya jawab adalah suatu proses belajar mengajar yang menempuh cara adanya
kegiatan tanya jawab antar guru dan murid. Pada bab haji dan umrah metode ini
bisa digunakan sebagai selingan pada saat kita tengah menyampaikan materi. Hal
ini berguna untuk mengukur kemampuan siswa dan sekaligus bisa untuk memusatkan
perhatian siswa.
e.
Metode pemberian tugas
Metode
ini bisa digunakan setelah penyampaian materi telah selesai di laksanakan.
Tujuan dari metode ini adalah, agar
setelah siswa pulang dari seolah tanpa disadari ia telah mengulang pelajaran
yang diberikan melalui tugas yang diberikan oleh guru. Misalnya, guru menyuruh
siswa untukmerangkum masalah haji dan umrah dalam laporan individu.[6]
Dari
beberapa jenis pendekatan, model dan metode, guru dapat memilih salah satu
diantara pendekatan tersebut. jenis pendekatan yang paling efektif dalam
pembelajaran fiqih Mts dan MA adalah ke tiga jenis pendekatan tersebut, karena
ketiga jrnis pendekatan tersebut dapat dengan mudah dalam penyampain materi.
Model
pembelajarn yang dapat digunakan guru dalam penympaian materi fiqih Mts dan MaA
adalah model pembelajaran aktif learning. Disini guru dapat menunjuk siswa
satu- persatu untuk mengemukakan pendapatnya tentang matri haji dan umrah.
Metode
yang efektif digunakan seorang guru dalam penyempain materi fiqih haji dan
umrah adalah dengan menggunakan ke lima metode diatas, yaitu metode ceramah,
metode drill, metode simulasi, metode
tanya jawab dan metode pemberian tugas.
Metode
ceramah digunakan ketika guru menerangkan atau menyampaikan materi fiqih haji
dan umrah, kemudian guru menggunakan metode driil dan simulasi, disini guru
dapat membuat kelompok-kelompok untuk mempratikkan thawaf, cara perpakain keika
ihram, dan lain sebagainya. Kemudian guru menggunakan metode tanya jawab, yaitu
guru memberikan pertanyaan masalah fiqih haji dan umrah. Selanjutnya guru
menggunakan metode penugasan, hal ini dimaksudkan agar siswa idak begitu saja
lupa ketika pelajaran sudah selesai, guru menyuruh murid untuk meringkas
materi-materi tentang haji dan umrah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Haji menurut bahasa adalah “menuju”, sedangkan menurut syara’ haji
adalah menuju tanah mekah karena ibadah. Haji termasuk ibadah yang telah pada
syari’at agama-agama terdahulu sebelum islam. Adapun syarat dan rukun haji
adalah sebagai berikut :
Syarat waib haji :
1.
Mukalaf
( orang yang telah dewasa dan wajib menjalankan hukum agama, yaitu melaksanakan
perintah Allah dan menjauhi larangan Allah)
2.
Merdeka
3.
Mempunyai
kesanggupan melakukannya
4.
Ada
mahram (muhrim) bagi wanita
5.
Berakal
sehat
Syarat sah haji adalah islam, berakal,
baligh, kuasa. Adapun rukun haji adah niat (ihram), thawaf, wukuf di
arafah,sSya’yu antara shafa dan marwa. Selain syarat dan rukun haji, ada juga
macam-macam haji, adalah sebagai berikut : Haji Ifrad, haji Tamattu’, Haji
Qiran.
Umrah diambil dari kata i’timar
adalah berziarah. Hukum umrah adaah fardu ‘ain bagi laki-laki dan perempuan,
sekali seumur hidup, seperti haji. Syarat rukun dan dan wajibnya sama dengan
ibadah haji.
Dalam pengajaran fiqih Haji dan
Umrah menggunakan tiga pendekatan yaitu : pendekatan pengalaman, pendekatan
fungsional, pendekatan sosial. Selain menggunakan pendekatan-pendekatan,
pendidik juga harus meggunakan model dan metode dalam pembelajaran. Oleh karena
itu kami mengunakan model pembelajaran active learning dan menggunaka lima
metode pembelajaran, yaitu : metode ceramah, metode drill, metode simulasi,
metode tanya jawab, metode pemberian tugas.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang kami susun, selebihnya kritik dan saran
yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan. Semoga makalah ini dapat
dijadikan sebagai acuan untuk makalah berikutnya agar lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Falah, Materi dan
Pembelajaran Fiqih Mts-MA, Buku Daros, 2009
Ash Shiddiqie dkk, Kuliah Ibadah, PT. Pustaka Rizki Putra,
Semarang, 2000
Imran Abu Umar, Fathul Qorib 1, Menara
Kudus, Kudus, 1983
M. Hasbi Ash-Shiddieqi, Pedoman
Haji, PT. Karya Unipres, 1994
Sulaiman Rashid, Fiqih Islam, Sinar Baru Algensindo,
Bandung, 2012
Zakiyah Drajat, Ilmu Fiqih, Pt Dhani Bakti Wakaf, 1995
[1] Imran Abu
Umar, Fathul Qorib 1, Menara Kudus, Kudus, 1983, hlm 198
[2]M. Hasbi
Ash-Shiddieqi, Pedoman Haji, PT. Karya Unipres, 1994, Hlm 3
[3] Ash Shiddiqie
dkk, Kuliah Ibadah, PT. Pustaka Rzki Putra, Semarang, 2000, Hlm 226-227
[4]Sulaiman
Rashid, Fiqih Islam, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2012, Hlm. 265-268
[5]Zakiyah Drajat,
Ilmu Fiqih,PT Dhani Bakti Wakaf, 1995, Hlm. 379-380
[6] Ahmad
Falah, Materi dan Pembelajaran Fiqih Mts-MA, Buku Daros, 2009, Hlm.
100-102
Terimakasih kak artikelnya sangat bermanfaat.
BalasHapusAgar lebih tau lagi mampir ke Hasanah Tour & Travel
Semoga berkah